Antara UFO dan Maulid Nabi

oleh Alfa RS.

Perayaan Maulid Nabi merupakan tradisi yang berkembang di masyarakat Islam jauh setelah Nabi Muhammad wafat. Kegiatan ini konon diperkirakan pertama kali diperkenalkan oleh Abu Said al-Qakburi (1154-1233 M.), seorang gubernur Irbil (sebuah kota di Irak bagian utara) pada masa pemerintahan Sultan Salahuddin Al-Ayyubi (1138-1193 M.). Adapula yang berpendapat bahwa idenya justru berasal dari Sultan Salahuddin sendiri. Tujuannya adalah untuk membangkitkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW, serta meningkatkan semangat juang kaum muslimin saat itu. Secara subtansi, peringatan ini adalah ekspresi kegembiraan atas lahirnya Nabi Muhammad.

Masyarakat muslim Indonesia menyambutnya dengan beragam kegiatan. Namun umumnya, mauludan sekedar diperingati dengan pembacaan shalawat Nabi, pembacaan syair Barzanji dan pengajian-pengajian.

Terkait boleh tidaknya menyelenggarakan acara tersebut, terkadang masih sering terjadi kekurangdewasaan dari sebagian masyarakat. Masih sering terdengar polemik antara mereka yang tidak merayakan akibat menganggap mauludah merupakan sebuah bid’ah; kegiatan yang bukan merupakan ajaran Nabi Muhammad SAW. dan mereka yang tetap menganggap bahwa mauludan adalah bentuk pengungkapan rasa cinta pada Baginda Nabi. Padahal, ribuan tahun yang lalu hal itu telah menjadi silang pendapat dikalangan para ulama. Antara Ibnu Taimiyah (1263-1328 M.) yang tidak mengakui keabsahan mauludan dan mayoritas ulama yang memperbolehkan memperingati hari kelahiran Nabi.

Sebagaimana judul tulisan, penulis tidak akan masuk dalam ranah salah satu pendapat tersebut. Dan terlepas dari boleh tidaknya memperingati kelahiran Baginda Nabi, ’kehebatan’ sosok Beliau tiada duanya. Sosok yang dalam pandangan Michael H. Hart (penulis buku The 100) adalah selain penyebar agama Islam, penguasa Arabia, beliau juga mempunyai karir politik dan keagamaan yang luar biasa. Namun keduanya (politik dan agama) tetap seimbang dan serasi, mengakibatkan Nabi Muhammad memiliki banyak pengikut, dan juga menjadi panutan seluruh masyarakat dunia hingga saat ini. Nah, jika selain muslim (Michael H. Hart) saja takjub dengan sosok beliau, kenapa muslimnya sendiri masih ribut dalam boleh dan tidaknya muludan. Bukankah semestinya, sebagai pengikut Beliau, kita sudah jauh mengerjakan hal-hal yang lebih ’spektakuler’?

Membicarakan Nabi Muhammad, tentulah kita akan menemukan sosok mulia. Husain Haikal (1888-1956 M.) menggambarkan, sekalipun usianya baru dua belas tahun, tapi dia sudah mempunyai persiapan kebesaran jiwa, kecerdasan dan ketajaman otak, sudah mempunyai tinjauan yang begitu dalam dan ingatan yang cukup kuat. Ia melihat ke sekeliling, dengan sikap menyelidiki, meneliti. Ia tidak puas terhadap segala yang didengar dan dilihatnya. Ia bertanya kepada diri sendiri: Di manakah kebenaran dari semua itu?

Husain menambahkan, jiwa Muhammad adalah seseorang dengan jiwa yang ingin melihat, ingin mendengar, ingin mengetahui. Dan seolah tidak ikut sertanya ia belajar seperti yang dilakukan teman-temannya dari anak-anak bangsawan menyebabkan ia lebih keras lagi ingin memiliki pengetahuan. Karena jiwanya yang besar, yang kemudian pengaruhnya tampak berkilauan menerangi dunia, jiwa besar yang selalu mendambakan kesempurnaan, itu jugalah yang menyebabkan dia menjauhi foya-foya, yang biasa menjadi sasaran utama penduduk Mekah. Dari sini nampaklah jelas bahwa selain memiliki sifat-sifat mulia, Muhammad muda adalah seseorang yang haus akan pengetahuan.

Dahaga akan pengetahuan itu tidak berhenti sampai beliau diangkat menjadi Rasul. Bahkan, setelah diangkat, Baginda Rasul diperintahkan oleh Allah untuk terus meminta tambahnya ilmu pengetahuan. Sebagaimana firman-Nya dalam al Quran Surat Thaahaa ayat 114, ”… dan katakanlah: ’Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan.” Jika demikian, lantas bagaimanakah hubungan antara UFO dan kelahiran Nabi?

Benda Terbang Aneh (BETA) atau yang akhirnya identik dengan makna istilah bahasa Inggris Unidentified Flying Object (UFO), adalah istilah yang digunakan untuk semua jenis fenomena penampakan benda terbang yang tidak bisa diidentifikasi oleh para pengamat dan tetap tidak bisa dikenali walaupun telah diselidiki. Selain kedua istilah tersebut, masih banyak istilah untuk menamai fenomena kemunculan benda-benda yang tidak diketahui itu, semisal flying saucer (piring terbang). Fenomena yang muncul beragam jenisnya. Mulai dari yang paling biasa, semisal berupa cahaya misterius (semacam meteor), sampai yang mencengangkan, penculikan yang diamini dilakukan oleh makhluk asing, semisal.

Meskipun fenomena tentang penculikan oleh makhluk asing yang banyak muncul dalam literatur dan film dokumenter kebenarannya tidak dapat dipastikan, namun menurut data yang penulis peroleh, beberapa orang pernah mengatakan bahwa dirinya pernah diculik oleh makhluk asing. Kesaksian tentang penculikan oleh makhluk asing ini biasanya diawali dengan penampakan UFO dan makhluk asing yang menyertainya. Konon, korban penculikan mengatakan dirinya diajak masuk ke dalam sebuah pesawat asing, dan setelah di sana tubuh mereka diteliti. Setelah beberapa jam (terkadang sampai beberapa hari), korban muncul kembali di suatu tempat dengan ingatan yang samar-samar. Umumnya orang yang diculik makhluk asing mengalami depresi, hilang ingatan, insomnia (tidak dapat tidur karena gangguan jiwa), dan luka atau memar yang tidak diingat penyebabnya. Menurut ahli psikoterapi (ahli pengobatan tanpa obat-obatan) yang menangani kasus penculikan oleh mahluk asing, fenomena tersebut merupakan pekerjaan ’makhluk gaib’ atau spiritual beings (makhluk spiritual).

Ada juga pendapat (yang diamini peneliti UFO) mengatakan bahwa, korban penculikan diajak ke dimensi yang berbeda dengan dimensi manusia, karena dalam suatu kasus penculikan, korban merasa diculik pada jam 09.00 dan dikembalikan pukul 09.00 pula, padahal ia merasa diculik berjam-jam.

Selain cahaya misterius dan penculikan, ada juga fenomena crop circle (lingkaran tanaman), seperti yang kemarin menggerus berita Gayus, Aril, dan masalah krusial lainnya dalam berbagai media. Fenomena ini tidak melulu berbentuk lingkaran yang muncul di ladang pertanian, karena dalam suatu kejadian ada yang bentuknya simbol-simbol dan pola geometri (sebuah cabang ilmu Matematika). Konon, pola-pola ini disebabkan pesawat luar angkasa yang mendarat. Jadi bisa dikatakan, bahwa lingkaran itu adalah landasan pesawat makhluk luar angkasa.

Menurut Husen Afandi dalam al-Hushun al-Hamidiyyah, ada dua kemungkinan sebuah fenomena bisa mudah dianggap aneh publik. Pertama, memang fenomena itu jarang terjadi, atau yang kedua, memang fenomena itu tidak mungkin terjadi secara akal. Penulis tidak perlu menjelaskan masuk ke alasan yang mana kejadian di Jogja itu benar-benar menghebohkan. Yang jelas, jika itu merupakan sandiwara, harus kita akui skenarionya mengagumkan. Karena selain akhirnya melibatkan aparat, kejadian itu menyeret salah satu perguruan tinggi di Jogja karena mahasiswanya dihubung-hubungkan dengan kejadian tersebut.

Berangkat dari kejadian itu, mari kita simak firman Allah, ”…dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”, (QS. Al-Israa’: 85). Meskipun ayat tersebut menjelaskan tentang Baginda Nabi yang dimintai keterangan masalah ruh oleh para sahabat, yang akhirnya Rasul diperintahkan untuk menjawab bahwa masalah ruh adalah urusan Allah, namun kita tidak bisa mengelak bahwa ruh merupakan sesuatu yang tidak ’terjamah’.

Secara tidak langsung, crop circle menjadi semacam kritikan buat mereka yang masih tidak percaya dengan hal-hal yang nggak masuk akal. Lebih jauh lagi, pada akhirnya, kejadian ini mengantarkan pada kebenaran adanya kehidupan setelah musnahnya jagat raya, karena hal ini masih banyak yang menganggapnya tidak masuk akal. Sebab karena kehebatan akal, tidak sedikit yang akhirnya mendewakan anggota tubuh yang menjadi pembeda antara manusia dan makhluk lainnya ini. Meskipun toh kenyataannya, banyak hal-hal yang tidak mampu dijangkau oleh mereka dengan akalnya.

Maka terkait dengan tema tulisan, menurut penulis, antara UFO dan muludan ada semacam hubungan. Pertama, hubungan dalam ranah pentingnya sebuah pengetahuan. UFO yang menggemparkan jelas menuntut kita untuk menggali pengetahuan tentangnya. Sedang mauludan, sebagaimana keterangan di muka, tidak mungkin menyembunyikan sejarah bahwa Rasul adalah sosok yang haus akan pengetahuan. Kedua, permasalahan absah dan tidaknya. Jika muludan oleh sebagian dianggap bid’ah, maka UFO masih menjadi teka-teki benar ataukah tidak bahwa itu ulah makhluk luar angkasa.

Terlepas dari teka-teki itu, kiranya kejadian munculnya lingkaran pada tanaman padi di Jogja itu menjadi cambuk kita untuk terus meng-update pengetahuan. Karena bagi yang sudah paham, minimal pernah mendengarnya, munculnya fenomena semacam ini tidak membuat dirinya takjub dan bingung bukan kepayang. Terlebih sekarang kita dalam suasana menghayati makna kelahiran Baginda Nabi, maka sepantasnyalah himmah mengeruk pengetahuan itu kita tingkatkan.

Dan ketika sudah berada dalam ’galian pengetahuan’, simaklah firman-Nya dalam al Quran Surat Al Kahfi ayat 109, ”Katakanlah: Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)." Dengan merenungkan ayat itu, semoga saja kita tak bosan untuk menengadah seraya berharap, semoga Allah menambahkan ilmu pengetahuan yang tentunya bermanfaat bagi kita di dunia dan akherat. Wallahu A'lam
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post