Bukan Surat Untuk Capres, Semoga Namanya Cerita Pendek

Biasanya jam segini aku masih terlelap. Sesekali pernah bermimpi, seringnya malah buruk. Mungkin karena sehari-hari masih menikmati kehidupan yang kurang baik, jadi jarang mimpi indah. Bisa juga karena faktor lain. Mimpi tetaplah mimpi, itu kenyataannya. Tak perlu diperpanjang. Aku suka dengan semua mimpiku, asalkan masih diberi kesempatan menikmati indahnya pagi. Tapi kenapa malam ini mimpiku terputus. Hei! Ada apa sih!

”Esya, ayo... Buruan...”

Belum sempat aku mendapat jawaban. Lenganku sudah ada yang menarik. Menuntunku segera bergegas meninggalkan bantal kesayanganku. Mulanya aku berontak. Setelah telinga meyakinkan suara ini tak asing dan kelopak terbuka lebar, aku pun menurut.

”Ada apa sih Bu. Ini jam berapa? Perasaan aku baru tidur.”

Ibu tak menggubris. Ditariknya aku keluar kamar. Diruang tengah ayah sudah menunggu, lengkap dengan ransel besar penuh isian. Ransel satu-satunya yang biasa digunakan buat kita pulang kampung saat lebaran. Aku tak tahu isinya apa, mungkin beberapa helai baju dan surat tanah.

”Bu, masa dia begitu. Ganti baju dulu gak apa-apa. Mudah-mudahan saja masih sempat. Buruan ya nak.”

Ibu kembali menarikku masuk kamar. Memilih sendiri celana dan baju yang harus aku gunakan. Beliau juga menyodorkan kerudung, seperti biasanya. Kerudung sederhana, tanpa aksesoris. Aku berniat cuci muka. Tapi ibu melarang. Kata ibu tak perlu.

Ayah langsung bergegas bangun dari kursi saat kami keluar kamar. Rautnya penuh kecemasan. Aku hampir tak percaya itu ayah. Sedari kecil aku tak pernah melihat tampang ayah segelisah itu. Ayahku penuh senyum, tenang. Tapi malam ini?

”Ayo bu kita pergi. Mari kita berdoa dulu. Bismillahirrahmanirrahim...”

Aku makin heran. Ada apa ini. Kita mau kemana? Ada apa?

***
Sepanjang gang kecil yang tadi kami lalui, dari kejauhan terlihat jalanan terang. Terangnya beda. Bukan seperti lampu jalan seperti biasanya. Bahkan sesekali terdengar ledakan. Dalam batin aku bertanya, mungkinkah itu peperangan. Bukankah kita sudah merdeka? Bukankah kemarin kita baru saja sukses menggelar pesta demokrasi? Ah...

*** 
...Ah. Bingung kelanjutan ceritanya. Gara-gara buka browser ketemunya sama surat-surat. Surat anaknya orang top lah, anak petani lah. Saya nyarinya surat cinta berroooww.... :D

Rumah Tua, 1 Ramadhan 1435 H.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post