Sebut saja namanya Mawar...

Oleh Alfa RS

Ya. Dia mawar. Menurut kabar, dia lahir di taman. Sebuah taman tengah kota yang saat itu sedikit berbunga. Bunga yang memberanikah diri tumbuh saat perang di kiri-kanan taman sedang bergelora. Mawar tidak terlalu cantik. Tapi sekedar mempesonakan beberapa lelaki sih, cukup.

Menurut kabar, saat itu di taman dia tidak sendirian. Ada kumbang dan beberapa udara segar yang menemaninya. Dia senang. Dia amat bahagia, sesekali terlihat menari. Bagi sebagian, dia bikin iri. Bagi beberapa yang lain, dia gila. Tapi faktanya dia sama sekali tidak peduli, Mawar tetap cuek angsa, sampai suatu ketika.

Kabar yang beredar, kala itu dia sedang sendiri. Angin entah sedang menyelimuti siapa dan dimana. Kumbang sudah pergi, mungkin ke taman kota sebelah. Saat itu tidak jelas malam ataukah siang, Mawar benar-benar sendiri sedangkan perang semakin menggila. Bahkan terdengar teriakan manusia yang bertanya: "Mengapa bumi menjadi begini?"

Mawar seketika gagap. Make up cueknya berangsur-angsur luntur. Dia bingung, tak tahu harus gimana. Dia bertanya pada diri sendiri, inikah saatnya bumi menceritakan berita itu? Cerita tentang apa yang diperintahkan Tuhannya. Kisah tentang manusia yang ke luar dari kuburnya dalam keadaan bermacam-macam untuk diperlihatkan kepada mereka balasan pekerjaan mereka selama ini. Inikah saatnya dia akan melihat secuil kebaikan dan sedikit kejahatan yang pernah dilakukannya? Mawar benar-benar panik. Kecantikannya yang tidak seberapa itu mulai luntur, dia berangsur layu.

Begitulah, cukup sebut saja dia Mawar. Berita terakhir menghimbau jangan terkecoh. Meskipun layu durinya masih tetap segar dan tajam... 

_________ 
Tombo mumet, Kediri, 17 Januari 2015
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post