Teroris; Teror Akidah

Oleh Alfa RS.

Sejak runtuhnya gedung World Trade Center (WTC) di Amerika pada September 2001 lalu, kata teroris kian menakutkan ketika terdengar. Meskipun tragedi itu akhirnya banyak yang menyangkal akibat ulah teroris –setelah peneliti menemukan berbagai kejanggalan jika itu benar-benar dilakukan teroris, tapi harus kita akui bahwa setelah itulah teroris 'lahir'.

Merujuk Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), teroris adalah orang yang menggunakan kekerasan untuk menimbulkan rasa takut. Maka, bisa dikatakan lahirnya teroris setelah kejadian itu –runtuhnya WTC– bukanlah isapan jempol. Karena teror yang dilakukan tentara pada rakyat tidak berdosa pun masuk didalamnya. Seperti perang yang terjadi di Irak dan Afganistan.

Di Negara kita, meskipun sebelum runtuhnya WTC aksi teror sudah mulai marak –tahun 2000 beberapa bom mengguncang tanah air. Diantaranya yang meledak di Kedubes Filipina, Kedubes Malaysia, Gedung Bursa Efek Jakarta dan Bom malam Natal, namun setelah kejadian itu teroris semakin sering menebar ancaman.


Dengan tidak adanya korban jiwa akibat bom-bom yang mereka ledakkan, aksi teror mereka tahun 2001 bisa dikatakan gagal. Seakan kecewa dengan hal itu, tahun berikutnya teroris mengguncang Indonesia dengan rentetan ledakan yang menewaskan banyak orang. Termasuk Bom Bali episode perdana yang menewaskan lebih dari 200 jiwa.

Tahun 2003 juga ternyata tidak luput dari ancaman. Salah satunya dengan melayangnya 11 jiwa ketika bom meledak di Hotel JW Marriott. Berikutnya, ledakan keras di depan Kedubes Australia menewaskan 5 orang dan ratusan lainnya luka-luka tahun 2004. Setahun kemudian, Bali kembali terguncang, 22 orang tewas. Teror terakhir, Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton kembali meledak di pagi 17 Juli 2009.

Guna 'menangkis' serangan teroris, dibentuklah unit Detasemen Khusus (Densus) 88. Dan sejak dibentuk Kepolisian Negara Republik Indonesia 26 Agustus 2004, kinerja Densus 88 terbilang tidak mengecewakan. Terlebih setelah berhasil menangkap gembong-gembong teroris, Densus 88 mengantarkan Indonesia mendapatkan aplaus yang bisa dikatakan hampir merata dari berbagai pojok dunia.

Tapi pernahkan terpikirkan oleh kita –kaum muslimin, khususnya masyarakat pesantren, bahwa fenomena ini harusnya bukan sekedar menimbulkan ketakutan atas setiap ancaman yang teroris gencarkan. Lebih dari itu, kita harus menangis. Mengapa?

Pertama, sebagai seorang muslim tentu kita mengenal, atau setidaknya pernah mendengar kata Khawarij, kelompok yang mengkafirkan beberapa sahabat Nabi dan tabiin. Begitulah komentar Abu Hasan Al ‘Asy’ari –pendiri madzhab Ahlussunah wal Jamaah, seperti dikutip al Bagdadi (al Farqu Baina al Firaq: 56). Dan terlepas dari kontroversi mengenai sejarah tentang mereka, yang jelas secara umum mereka adalah kaum pembelot, golongan yang menentang keras penguasa dan mencampakkan ketaatan terhadap pemerintahan yang sah secara hukum.

Melihat apa yang digariskan sejarah, kiranya ancaman dari teroris yang semakin gencar perlu kiranya kita kaitkan dengan mereka. Pasalnya, jika alasan Imam Samudra Cs. hanya menentang kebijakan-kebijakan Amerika Serikat yang bertentangan dengan syariat Islam, hal itu tentu tidak akan menumbuhkan mata rantai yang kian hari bertambah panjang dan relatif singkat. Maka menjadi harga mati kita harus mengakui, begitu akan sangat berbahanya bila ternyata mereka adalah tunas-tunas Khawarij. Eksistensi akar kelompok ini akan sangat membahayakan bagi dasar Negara kita, ideologi Pancasila.

Kedua, sebagai Nahdliyyin –yang memploklamirkan diri sebagai pengawal Aswaja di garda terdepan, harus benar-benar mengakui bahwa saat ini kita kecolongan. Setelah lebih dari delapan puluh tahun, tujuan bersama yang berupa berlakunya ajaran Islam berfaham Ahlus-Sunnah Waljama'ah akan sia-sia, jika akar itu tidak segera kita 'tebas'.

Jajaran kepengurusan Nahlatul Ulama (NU) yang baru perlu membuat gebrakan guna menanggulangi hal ini. NU melalui perangkat organisasinya memerlukan formula khusus untuk menonaktifkan tunas-tunas aliran tersebut. Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU), perlu lebih intens dalam mengembangkan ajaran agama Islam berfaham Ahlus-Sunnah Waljama’ah (Aswaja). Selain itu, perlu adanya koordinasi yang lebih antara LDNU dengan LP Ma’aruf NU (Lembaga pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama). Karena memang akar itu tidak hanya bercokol digaris bawah, tapi juga merambat dalam institusi formal, termasuk pesantren. Dari sini, Rabithah Ma’ahid al-Islamiyah (RMI) juga perlu mengadakan 'inspeksi' ke pesantren-pesantren, agar masyarakat pesantren tidak salah kaprah mengartikan makna berkorban demi agama.

Selain itu, dibutuhkan pula kinerja ekstra dari Lajnah Ta’rif wan Nasyr. Lembaga milik NU yang bertugas mengembangkan penulisan, penerjamahan dan penerbitan Kitab/ Buku serta informasi lain yang berfaham Aswaja itu, harus mampu memberikan sebuah kajian yang terfokus seputar permasalah teroris. Mereka juga harus lebih gencar menyosialisasikannya. Bahkan menjadi keniscayaan jika mampu membagi-bagikan kajiannya cuma-cuma.

Lepas dari semua itu, setidaknya kita harus bangga pada para teroris. Lebih jauh lagi, berterima kasih pada mereka yang telah mengumandangkan 'war of Islam'. Karena secara tidak langsung, mereka memberikan tiga pencerahan pada kita.

Pertama, Islam adalah agama yang memang diakui kebenarannya. Tanpa menggunakan dalil agama –karena memang al Quran dan hadis dengan tegas menyampaikan itu, sikap mereka yang menebar kebencian pada Islam sejatinya menjawab bahwa Islam adalah ajaran yang benar. Mengapa demikian, karena memang dewasa ini sangat sulit sekali berdiri dipihak yang benar.

Sebagai bangsa yang belum bisa melepaskan diri dari budaya korup, ketika berada dalam sebuah lembaga –baik formal maupun non formal, tentu akan sangat banyak sekali tantangan jika berjalan 'lurus-lurus saja'. Pastinya, kiri-kanan ada saja yang mengusik. Entah karena khawatir 'keamanan' mereka, atau hanya sekedar mengikuti alur kebanyakan. Dan terlepas dari benar dan salahnya Susno Duaji yang menarik beberapa nama besar, yang jelas episode itu menggambarkan sulitnya berdiri di pihak benar.

Dengan semakin takutnya 'bibitane' teroris, bertambah meyakinkan kita betapa takutnya dunia akan kebangkitan Islam. Kebangkitan dalam artian sebuah ajaran penuh cinta, damai dan berkeadilan. Bukan bangkitnya Islam sebagai sebuah Negara yang selama ini marak didengungkan sebagian golongan. Karena jika kita memaksakannya, kita harus sanggup berkorban banyak, termasuk membedah Pancasila. Dan bukan mustahil hal itu malah akan menimbulkan ketidaknyamanan, bahkan peperangan. Jika yang terjadi demikian, 'bibitane' teroris bukannya takut, karena sebenarnya kekacauan itulah yang mereka inginkan.

Kedua, betapa kita harus mengakui eksistensi kaum Yahudi, agama samawi yang turun ribuan tahun sebelum diutusnya Nabi Muhammad Saw. Seperti diingatkan Allah dalam firmannya, betapa kita harus selalu waspada dengan mereka (lihat QS. al Baqarah: 120, al Maidah: 82).

Untuk mendapatkan keinginannya –menurut banyak pendapat, kaum Yahudi menanamkan keyakinan menolak ajaran penciptaan. Diciptakanlah teori Darwinisme, yang pada akhirnya menanamkan prinsip materialisme. Dengan prinsip hidup ini, orang akan semakin jauh dari Tuhan. Karena intinya, materialisme berpendapat segala sesuatu dari, oleh dan kembali pada materi.

Hal ini jauh menyimpang dari kebenaran. Sebagaimana kesimpulan Harun Yahya setelah melakukan berbagai riset. Singkatnya –menurut dia, ilmu pengetahuan menegaskan bukti yang telah kita kaji bahwa semua makhluk hidup diciptakan oleh Allah, (lihat Menyanggah Darwinisme: 2005).

Ketiga, teroris meyakinkan manusia bahwa kita adalah makhluk tanpa daya. Mereka tidak lebih sebuah gambaran bahwa saat ini manusia mengalami frustasi yang teramat dalam. Ketidakberdayaan mereka menjalani kehidupan –dengan segala permasalahannya, mengantarkan mereka pada titik frustasi terdalam dan bermuara pada satu pilihan, jalan pintas mengatasi semua masalah. Mereka menaruh harapan besar bahwa menjadi 'pengantin' akan merubah nasibnya.

Hal ini menegaskan juga bahwa, betapa bangsa ini adalah bangsa yang berkepercayaan. Terbukti, meskipun salah dalam menafsirkannya, dengan pemahaman jihad yang dangkal, mereka terbuai dengan apa yang Allah janjikan pada para syuhada.

Di sini, kita kembali harus mengakui adanya oknum-oknum cerdik yang mampu memutar balikkan dalil agama untuk tujuan tertentu. So, sepantasnya kita selalu waspada. Karena teror akidah akan terus menghujam dan berhembus disekitar kita.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post