Prospek Pesantren Suram

Oleh: Alfa RS.

Akibat pengaruh kapitalisme, masyarakat kita semakin ketakutan akan masa depan. Sadar atau tidak anda mungkin pernah, atau malah sedang mengidap virus berbahaya itu. Benarkah? Mari kita raba.

Kapitalisme, sebuah paham dan sistem ekonomi yang menggunakan modal pribadi dalam jumlah sangat besar dan bersaing bebas dalam pasar, secara tidak langsung dan tanpa disadari telah menarik kita dalam kawasan yang serba wah, selalu memaksa untuk melihat sesuatu dari pandangan ekonomi.


Dampaknya kita semakin menomor satukan bidang ekonomi dan mengukur segalanya dari materi. Islam tidak sepenuhnya menafikan bidang ekonomi, banyak sekali ayat-ayat menjelaskan anjuran untuk mencari dan mewarnai perekonomian dunia. Diantaranya adalah doa yang diajarkan oleh Allah dalam firman-Nya QS. al-Baqarah: 201; ”…Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa Neraka" juga QS. al-Jumuah: 10, ”apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung”. alQuran dengan jelas menyuruh manusia untuk mencari karunia-Nya, mencari harta. alQuran juga memberikan tips untuk menggapainya, sebuah doa yang menurut ahli tafsir adalah sebaik-baiknya doa seorang muslim. Sebuah metode upaya dua dimensi, doa dan bekerja dengan tanpa mengesampingkan kewajiban seorang hamba.

Akhir-akhir ini pesantren menjadi korban ketakutan itu. Lembaga yang telah berjasa mencerdaskan anak bangsa bertahun-tahun, sekarang dianggap momok menakutkan. Banyak masyarakat sudah anti sama yang namanya pesantren. Padahal, cibiran mereka tanpa sebuah alasan jelas. Rata-rata mereka menganggap dunia pesantren adalah bidang kurang cerah, prospek masa depan yang buram. Masyarakat seakan tidak sadar, sekarang bukan zamannya bertanya mau kerja apa dan dimana. Kenapa?

Perlu kita ketahui, dari lingkungan Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) saja, tahun ini sebanyak 54.587 orang mengajukan diri menjadi PNS. Setelah pada tahun 2005 ada 56.228 orang, 2006 sebanyak 44.032 dan 56.358 pada tahun 2007 lalu. Perlu juga kita simak keterangan Bambang Sudibyo (Mendiknas), ” …kita optimistis Indonesia tidak akan kekurangan guru. Hingga 2015 jumlah guru PNS yang dimiliki pemerintah masih berlebihan, ditandai rasio jumlah murid dan guru yang masih besar, yakni satu guru untuk 14 siswa. Sedang rasio yang ideal adalah satu guru untuk 20 siswa.”
Belum lagi data lembaga survei yang menyatakan ribuan sarjana dari berbagai jurusan menganggur. Bagi sarjana yang sudah punya pekerjaanpun, karena krisis ekonomi global terpaksa berhenti akibat diPHK. Lalu ketika dunia akademis sudah sesuram itu prospeknya, kenapa pesantren yang disudutkan? mungkinkah sekarang eranya bertanya diterimakah kita kerja. Bukan masanya kerja apa dan dimana. Benarkah?

Untuk mengikis pemahaman ”ketakutan” akan pesantren, kiranya perlu diperjelas bahwa sebuah ilmu pengetahuan dalam Islam sangat dijunjung tinggi. Bukan sekedar prospek. Anda bisa menyimak QS. Ali Imran: 18. ”Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah) Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” Coba renungkan, betapa orang yang punya ilmu begitu mempunyai derajat tinggi hingga dituturkan setelahnya para malaikat. Menurut Ibnu ‘Abbas derajat para pemilik ilmu mengalahkan orang mu’min hingga lebih 700 derajat. Yang andai saja pangkat itu ditempuh dengan perjalanan, maka diantara dua derajat saja sudah mencapai perjalanan 500 tahun. Bayangkan! Mungkin itulah prospek Kang Santri. Prospek yang menyilaukan.

Kemudian, orang berilmu apakah yang mampu mendapatkan predikat tersebut? Mari kita tengok QS. al-Mujadalah: 11, ”hai orang-orang beriman, apabila kamu dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”

Menurut as-Showi (1761-1825 H.) dalam tafsirnya, pada ayat itu terdapat hubungan antara kata yang umum dan khusus, maksudnya bahwa ayat ”dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan” lebih khusus dari pada kata sebelumnya yang hanya mengatakan ”orang-orang beriman” saja, dan hubungan seperti itu mengandung arti bahwa orang-orang berilmu yang dimaksud di atas pastilah dari kalangan muslim.

Muslim adalah orang yang tunduk dan patuh atas apa yang telah dibawa baginda Rasul. Lalu ketika sebuah ilmu dikaitkan dengan prospek, termasuk hal yang telah dibawa baginda Nabikah itu? As-Showi menambahkan, untuk pemilik ilmu pengetahuan dalam ayat di atas, ketika dia telah mampu menggabungkan ilmu dan perbuatannya, maka dia berhak atas derajat lebih tinggi serta berhak untuk diikuti perbuatan dan perkataannya.
Terus apakah semua ilmu bisa mengantarkan kita untuk menggapai pangkat itu? Dalam firman Allah QS. An-Nahl: 42 ”Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang Kami beri wahyu kepada mereka; maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” dalam ayat ini nampak jelas bahwa yang dimaksud orang-orang berilmu adalah mereka yang mempunyai pengetahuan tentang nabi dan kitab-kitab, dalam kata lain adalah ahli syariat Islam.

Walhasil, dengan kenyataan dunia perekonomian seperti sekarang ini, tentu kita tidak pantas jika memvonis prospek yang suram bagi lulusan pondok pesantren. Terlebih lagi jika kita seorang muslim, tentu kita tahu firman Allah; ”Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal,” QS. Luqman: 34.

Dari kejelasan ayat diatas, menurut ulama ahli tafsir sudah jelas bahwa sebagai manusia kita hanya mampu berusaha, kita tidak kuasa untuk memvonis suram ataukah terang hari esok. Kita hanya mampu berusaha dan usaha Kang Santri di pesantren bukanlah hal yang sia-sia.

Kiranya perlu juga penulis kutipkan pengalaman pribadi alumni sebuah pesantren di Jawa Timur, KH. Affandi Mursyid Plongko Pare yang sekarang sudah berusia 89 tahun.”…dipesantren ngga’ perlu neko-neko, pokoe ta ngaji lan ngaji. insya Allah pengeran paring kehidupan ingkang sae. Kados kulo niki, mulai keluar pesantren 1963 sampai sa’ niki belum pernah yang namanya bekerja, yo...dilalah kangge dahar enggih wonten, tonggo tumbas nopo yo kulo saged tumbas”. (di pesantren tidak perlu mikir macam-macam, yang penting belajar dan belajar. Insya Allah tuhan memberikan kehidupan yang nikmat. Seperti saya ini, mulai dari keluar pesantren tahun 1963 sampai sekarang belum pernah bekerja, ya…pokoknya kalau mau makan ada yang di makan, tetangga beli sesuatu ya…saya juga bisa beli). Sebuah pesan yang tidak lazim. Tapi itulah kenyataannya, ketika ’tangan-tangan’ Tuhan membuktikan kuasa.

Menuntut ilmu adalah sebuah kewajiban, seperti itulah sabda Nabi. Mereka yang berada di pesantren kiranya sedang menuju ke arah sana. Pantaskah jika mereka terus kita cerca, sedang mereka punya tanggung jawab yang lebih besar dari pada pencari ilmu lainnya? Kang Santri punya mandat yang terrekam dalam QS. At-Taubah: 122, ”Tidak sepatutnya bagi mukminin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.”

Terakhir, perlu anda catat bahwa sampai kapanpun ilmu pesantren akan terus berguna bagi masyarakat. Buktinya sampai sekarang pesantren masih eksis, bertebaran di seluruh penjuru nusantara. Mungkin karena prospek yang terlalu silau, membuat mata-mata biasa tidak sanggup melihatnya. Mata-mata yang tertutup hijaunya dunia. Benarkah?

# Jawa Pos, Selasa 11 Nopember 2008 M.
Ihya Ulumuddin. Al-Ghazali. Dar al Fikr Vol I Hal 15.
Al-Husun al-Hamidiyah. Hidayah Hal 8.
Hasyiah As-Showi, Dar al Fikr Vol IV Hal 236.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post