Belajar Dari Kiai Bangsa

Oleh: Alfa RS.

Seperti saat peringatan empat puluh harinya, mengenang seratus hati mangkatnya Gus Dur pun terkesan luar biasa. Ribuan orang memadati lingkungan Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, kemarin. Bukan hanya dari daerah sekitar, bahkan hingga Minggu (4/4) saja, setidaknya sudah ada 250 turis asal Malaysia yang tiba di Surabaya melalui Bandara Internasional Juanda dan mengaku mau pergi ke Jombang untuk ikut mendoakan Gus Dur. (Surya, 6/4/'10).

Sampai kini, banyak yang belum habis pikir akan antusiasme masyarakat yang begitu besar terhadap sosok Gus Dur. Jangankan masyarakat bawah, tokoh sekaliber KH. Maimun Zubair, Sarang, saja –sebagaimana disampaikan KH. A. Musthofa Bisri (Gus Mus) saat peringatan empat puluh harinya Gus Dur, pernah mengutarakan hal itu. "Sa' jane amalane Gus Dur opo to. Ko' iso sampe koyo ngene... (sebenarnya amalan Gus Dur [wiridannya] itu apa. Sampai-sampai segitunya antusiasme masyarakat)," Gus Mus menirukan Yai Maimun waktu itu.

Terlepas dari pemikiran mendiang, hemat penulis semua itu kiranya wajar jika memahami bahwa fitrah kita sebagai manusia memang tidak menyukai kejahatan. Terbukti dengan rasa duka yang teramat dalam jika kita harus ditinggalkan mereka tokoh-tokoh yang selalu menjunjung cinta dan damai, termasuk mendiang Gus Dur. Bisa pula dibuktikan ketika penonton lakon lebih memilih pemeran utama yang berjiwa baik, ketimbang pemeran dengan karakter antagonis.

Dalam tulisannya menyambut empat puluh hari mangkatnya Gus Dur disalah satu harian Jatim, Gus Mus dengan berbagai pertimbangannya menyampaikan sosok mantan presiden ke empat kita sangat layak masuk Guinness Book of Records (GWR). Hal ini menarik untuk diperbincangkan. Karena pemasalahannya bukan sekedar layak atau tidaknya Gus Dur masuk GWR. Namun, apakah lantas telah cukup bila Gus Dur masuk rekor dunia?

Sebagai bangsa yang sedang 'bergejolak', rakyat Indonesia seharusnya mampu menangkap pesan universal yang tersirat dari kehidupan Gus Dur. Bukan hanya kisruh dalam masalah menjadikannya pahlawan dan masuk buku rekor. Juga tidak sekedar semangat ‘berkunjung’ ke pemakaman dan seremonial berbagai even untuk mengenangnya, termasuk acara yang digelar kemarin.

Sejarah mencatat, Gus Dur sering kali bertentangan dengan rumpunnya sendiri. Mulai dari masalah mengganti assalamualaikum dengan selamat pagi, dukungan pada Inul Daratista, kelompok Ahmadiyah, sampai dukungannya menolak UU Pornografi pada pertengahan 1998. Polemik itu menuai beragam tanggapan, bahkan sebagian kalangan memandang miris.

Membicarakan beliau sebagai sosok multikultural-plural dan demokratis, bagi –meminjam istilahnya Gunawan Mohammad– hati orang ramai, penulis kira terlalu berlebihan jika ditangkap oleh fansnya yang –biasa dikatakan– berstatus sosial rendah. Selain hal itupun terlalu sering disinggung oleh kalangan akademis.

Kecintaan kepada tanah air yang mendarah daging adalah pelajaran paling berharga dari mendiang Gus Dur, yang jarang sekali diangkat tema seminar ataupun tulisan-tulisan. Demi keutuhan nusantara, beliau rela mengorbankan segalanya, termasuk rela bersengketa dengan rumpun-nya. Sebenarnya hal itupun bisa dikatakan wajar, karena beliau adalah putra tokoh yang ikut berperan dalam 'mendamaikan' rakyat Indonesia.

Kita memang terbiasa baru mengakui keberadaan sesuatu setelah itu tiada. Dan sekarang, setelah sang kiai bangsa tiada, betapa kita merasakan sebegitu berharganya dakwah nasionalisme dengan lisaanul haal yang mendiang ajarkan. Karena dewasa ini, rasa mencintai bangsa dan negara sendiri semakin menjadi barang mahal. Jangankan generasi muda, publik figur yang semestinya mengajarkannya malah bertingkah sebaliknya. Sikap mereka yang mendewakan tanah seberang, tanpa disadari berdampak negatif pada bangsa ini. Lihatlah kejadian disalah satu pusat perbelanjaan di Jakarta beberapa waktu lalu, bagaimana hanya demi sebuah alas kaki masyarakat rela antri berjam-jam. Selain karena dampak globalisasi, fenomena itu jelas akibat lunturnya kecintaan pada bangsa sendiri.

Setelah mengenang seratus harinya Kiai Bangsa, diharapkan kecintaan kita pada negeri ini kembali terpupuk. Karena jika hal itu pudar, sangat dikhawatirkan kita akan kembali terpuruk. Dan yang sangat dikhawatirkan, indikasi ke arah itu sudah sangat kentara. Sering kita dengar kabar tawuran antar warga, bahkan pelajar dan mahasiswa.

Mengantisipasi hal itu sekaranglah saatnya kita berbenah, dan tempat yang paling ideal untuk memupuk nasionalisme adalah keluarga.

Di era platinum seperti sekarang ini, sudah saatnya setiap orang tua mampu berkomunikasi dengan seluruh anggota keluarga. Komunikasi yang bukan sebatas obrolan menggurui, tapi juga piawai berkomunikasi menggunakan tindak tanduknya. Karena jika orang tua tidak mampu memberikan itu, mereka akan mendapatkannya diluar rumah. Baik dari teman sepergaulannya maupun media, yang tentunya belum tentu sesuai dengan aslinya.

Orang tua tentu punya kiat-kiat berbeda antara satu dengan lainnya dalam mengarahkan keluarganya menjadi lebih baik. Dan andaikata keluarga kita termasuk golongan orang ramai, terlalu berlebihan jika mengajarkan multikultural-plural dan demokratis pada keluarga. Yang jelas, bagaimana mulai sekarang dalam keluarga ada pelajaran etika. Karena etika merupakan satu dari beberapa hal yang dapat menumbuhkan cinta pada bangsa dan negara.

Memandang hal itu pula, kiranya proyek pemolesan makam Gus Dur yang memakan milyaran rupiah perlu ditinjau ulang. Karena kita tentu tidak tau apakah sang Guru Bangsa di sana menyukai bentuk penghormatan itu, jika kenyataannya menyakiti sebagian rakyat Indonesia.
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post
NEXT ARTICLE Next Post
PREVIOUS ARTICLE Previous Post